Sabtu, 18 Februari 2012

PTK-PAI SD

PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Judul : UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PAI MELALUI PEMBERIAN TUGAS BAGI SISWA KELAS VI SEKOLAH DASAR NEGERI NGEMBALREJO 01 BAE KABUPATEN KUDUS TAHUN 2012

Bidang Kajian : Pendidikan Agama Islam dengan pemanfaatan media LCD

A. PENDAHULUAN

Faktor terpenting di dalam peningkatan kuantitas dan kualitas pengajaran adalah guru. Hal ini menuntut perubahan-peruubahan dalam mengorganisasikan kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak sebagai fasilitor yang berusaha mencipatakan kondisi belajar mengajar yang efektif, sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Untuk memenuhi hal tersebut, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa, sehingga ia mau belajar karena siswalah subyek utama dalam belajar.

Kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif. Namun kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasama kelompok kecil akan memungkinkan untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran.

Pembelajaran Agama Islam tidak lagi menfokuskan pada penyerapan melalui pencapaian informasi semata tetapi lebih mulai diarahkan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi. Untuk itu aktifitas siswa dalam pembelajaran perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas dengan bekerjasama dalam kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. (Hartoyo, 2000: 24).

Oleh karena itu upaya peningkatan motivasi belajar PAI bagi siswa juga harus menjadi perhatian para guru. Di antara kiat yang perlu dilakukan oleh guru dalam upaya tersebut adalah pemberian tugas.

B. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH

1. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut didepan, maka rumusan permasalahan yang diajukan dalam proposal ini adalah “Apakah pemberian tugas dapat meningkatkan motivasi belajar bagi siswa kelas VI SDN Ngembalrejo 01 Kecamatan Bae Kabupaten Kudus?”

2. Pemecahan Masalah

Filsafat Cina mengatakan: “Engkau mendengar engkau lupa, engkau melihat engkau ingat, engkau melakukan engkau mengerti.” Pepatah Cina ini sangat terkenal di dunia pendidikan. Dengan metode pemberian tugas diharapkan akan dapat diaktifkan tiga gaya belajar siswa yang meliputi audio, visual, dan kinetis. Hal ini tentu saja akan mampu mengkondisikan siswa memiliki motivasi.

Menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

3. Hipotesis

Hipotesis tidakan yang diajukan dalam proposal penelitian ini adalah “Pemberian tugas dapat meningkatkan motivasi belajar PAI bagi siswa kelas VI SDN Ngembalrejo 01 Kecamatan Bae Kabupaten Kudus”.

V. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan Umum

Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini menjadi masukan bagi guru dan siswa untuk meningkatkan belajar di rumah.

2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini: “Untuk meningkatkan motivasi belajar PAI bagi siswa kelas VI SDN Ngembalrejo 01 Kecamatan Bae Kabupaten Kudus”.

VI. MANFA’AT HASIL PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfa’at bagi masyarakat karena:

1. Memberikan informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan materi Pendidikan Agama Islam.

2. Meningkatkan motivasi pada pelajaran Pendidikan Agama Islam

3. Mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

VII. KAJIAN PUSTAKA

A. Definisi Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berusaha tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (KBBI, 1996:14).


B. Motivasi Belajar

Menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.

C. Pengajaran metode tugas

Yang dimaksud dengan pemberian tugas belajar ialah suatu cara mengajar di mana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada peserta didik, sedangkan hasil tersebut di periksa oleh guru dan peserta didik mempertanggungjawabkannya.

Pertanggungjawaban itu dapat dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:


- menjawab tes/ ujian yang diberikan oleh guru.

- menyampaikan laporan/ hasil pengamatan ke muka kelas secara lisan.

- menuliskan jawaban atas pertanggungjawabannya.

D. Prestasi Belajar.

Prestasi belajar berasal dari kata “ prestasi “ dan “belajar’ prestasi berarti hasil yang telah dicapai (Depdikbud, 1995 : 787). Sedangkan pengertian belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau lmu (Depdikbud, 1995: 14). Jadi, prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru. Prestasi dalam penilitian yang dimaksudkan adalah nilai yang diperoleh oleh siswa pada mata pelajaran matematika dalam bentuk nilai berupa angka yang diberikan oleh guru kelasnya setelah melaksanakan tugas yang diberikan padanya.


VIII. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN

A. Rencana Penelitian

  1. Subjek penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Ngembalrejo 01 Kecamatan Bae Kabupaten Kudus, dengan jumlah siswa 19 orang.

Pertimbangan penulis mengambil subyek penelitian tersebut di mana siswa kelas VI telah mampu dan memiliki kemandirian dalam mengerjakan tugas seperti tugas kelompok dan individu.

  1. Tempat Penelitian

Dalam penilitian ini penulis mengambil lokasi di Negeri Ngembalrejo 01 Kecamatan Bae Kabupaten Kudus. Penulis mengambil lokasi atau tempat ini dengan pertimbangan peneliti sedang bekerja di sekolah tersebut, sehingga dapat memudahkan dalam mencari data, peluang waktu yang luas, dan subyek penlitian yang sangat sesuai dengan profesi peneliti.

  1. Waktu Penelitian

Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan menggunakan waktu penelitian selama 1 bulan, yaitu 16 Pebruari s.d 16 Maret 2012. Waktu dari perencanaan sampai penulisan laporan hasil penelitian tersebut pada semester Genap Tahun pelajaran 2011/2012.

  1. Lama Tindakan

Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan Pebruari, mulai dari siklus I, Siklus II dan Siklus III.


B. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian yang diterapkan dalam hal ini antara lain:

1. Perencanaan

Perencanaan meliputi penyampaian materi pelajaran, latihan soal, pembahasan latian soal, tugas pekerjaan rumah (kegiatan penelitian utama), pembahasan PR, dan ulangan harian.

2. Tindakan (Action)/ Kegiatan, mencakup:

a. Siklus I, meliputi: Pendahuluan, kegiatan pokok, dan penutup.

b. Siklus II ( sama dengan I )

c. Siklus III (sama dengan I dan II )

3. Refleksi, di mana perlu adanya pembahasan antara siklus-siklus tersebut untuk dapat menentukan simpulan atau hasil dari Penelitian Tindakan Kelas.


IX. JADWAL PENELITIAN

No

KEGIATAN

MINGGU KE

I

II

III

IV

V

VI

VII

VIII

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1

Perencanaan

2

Proses pembelajaran

3

Evaluasi

4

Pengumpulan Data

5

Analisis Data

6

Penyusunan Hasil

7

Pelaporan Hasil

8

9




X. BIAYA PENELITIAN

Akibat yang timbul dari penelitian ini menjadi tanggung jawab peneliti, adapun biaya tersebut adalah:

1. Fotocopy Naskah : Rp ……..

2. Kertas folio 1 rim : Rp ……..

3. jilid buku : Rp ……….

4. Rental Komputer : Rp ……..

5. Lain-lain : Rp ……..

JUMLAH : Rp ………

XI. PERSONALIA PENELITI

Penelitian ini melibatkan Tim peneliti, identitas dari Tim tersebut adalah:

1. Nama : Mahlail Syakur Sf.

NIP : ………….

Pekerjaan : Dosen FAI Unwahas

2. Nama : Laynufar Silsilia Alhila

NIP: 19840303 200903 1 006

Pekerjaan : GURU PAI KELAS VI

XII. DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research, Yogyakarta: Andi Offset, 1995.

Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.

Wijaya, Cece, Dkk, Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan Dan Pengajaran, Bandung: Sinar Baru, 1992

Sudjana, Nana Dan Rivai, Ahmad, Teknologi Pengajaran, Bandung: Sinar Baru, 1989

Rohani, Ahmad, Media Instruksional Edukatif, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997.

Djamarah, Syaiful Bahri., dan Zain, Aswan, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Uzer Usman, Moh. dan Setiawati, Lilis. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1993.

Darajat, Zakiah, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2001

Djamarah, Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2005

Sistematika Proposal PTK (unwahas)

Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/1 FAI-Unwahas/2012
TEKNIK PENYUSUNAN PROPOSAL PTK1
Oleh Mahlail Syakur Sf.2
Pendahuluan
Penelitian yang baik adalah penelitian yang dikerjakan berdasarkan prosedur yang
benar sesuai dengan rancangan yang matang. Rancangan dalam penelitian lazim disebut
dengan proposal penelitian.
Bagi sebagian orang membuat proposal adalah hal mudah namun tidak demikian
bagi yang lainnya. Bukan berarti yang lain itu tidak bisa melainkan kurang memahami
format atau isi dari proposal itu sendiri.
Proposal merupakan suatu bentuk rancangan kegiatan yang dibuat dalam bentuk
formal dan standar berupa tulisan, misalnya “Proposal Penelitian” dalam dunia ilmiah
(pendidikan) yang disusun oleh seorang peneliti atau mahasiswa yang akan membuat
penelitian (skripsi, tesis, disertasi). Dari segi ilmiah proposal adalah suatu rancangan
desain penelitian (usulan penelitian) yang akan dilakukan oleh seorang peneliti tentang
suatu bahan penelitian. Bentuk proposal biasanya memiliki suatu bentuk dengan
berbagai standar tertentu seperti penggunaan bahasa, tanda baca, kutipan, dll.
Proposal merupakan pernyataan atas urgensi penelitian (isunya menarik,
mengikuti kebutuhan perkembangan ilmu, belum pernah diteliti orang, mempunyai
implikasi teoretik, dan/ atau praktis). Proposal menggambarkan organisasi penelitian
yang tepat, sistematis, dan logis. Dengan proposal peneliti bisa memproyeksikan apa
saja yang akan dilakukan dan hasilnya di lapangan, karena proposal merupakan kunci
bagi keberhasilan proses penelitian. Jika proposal dipersiapkan secara baik maka akan
menghasilkan penelitian yang baik pula.
Umumnya proposal penelitian terdiri dari latar belakang masalah, alasan
pemilihan judul, rumusan masalah/ fokus, tinjauan pustaka, hipotesis, metode
penelitian, dan sistematika pelaporan, serta daftar pustaka. Bagaimana dengan proposal
PTK? Tulisan singkat ini secara khusus menjelaskan format proposal PTK.
1 Makalah disampaikan pada Workshop Penelitian Tindakan Kelas yang diselenggarakan oleh Fakultas
Agama Islam Unwahas Semarang bekerjasama dengan Direktorat PAI Sekolah (DITPAIS) Kementerian
Agama RI untuk guru PAI SD, tanggal 17 Februari sd. 17 Maret 2012.
2 Dosen FAI/ PPs. Universitas Wahid Hasyim Semarang.
Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/2 FAI-Unwahas/2012
Format Proposal PTK
Penulisan proposal hanya salah satu dari sekian banyak tahap perencanaan.
Penulisan proposal adalah suatu langkah penggabungan dari berbagai perencanaan yang
telah dibuat dalam tahap¬tahap sebelumnya.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK, Classroom Action Research) merupakan salah
satu jenis penelitian lapangan. Oleh karena itu PTK juga harus dikerjakan berdasarkan
proposal penelitian yang telah dipersiapkan secara baik sebelum melakukan tindakan.
Format proposal PTK dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Judul Penelitian
Judul Penelitian Hendaklah singkat dan spesifik, tetapi cukup jelas untuk
memberi gambaran mengenai masalah penelitian yang direncanakan untuk diteliti
dan mengenai tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi
terhadap masalah yang dihadapi. Judul PTK hendaknya dinyatakan dengan akurat
dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya
pemecahan masalah. Formulasi judul hendaknya singkat, jelas, dan sederhana namun
secara tersirat telah menampilkan sosok PTK bukan sosok penelitian formal.
2. Bidang Ilmu
Tuliskan bidang ilmu (Jurusan) dari Ketua Peneliti.
3. Pendahuluan
Penelitian dilakukan untuk menjawab keingin-tahuan peneliti untuk
mengungkapkan suatu gejala/ konsep/ dugaan atau menerapkannya untuk suatu
tujuan. Maka perlu dikemukakan hal-hal yang mendorong atau argumentasi arti
penting dilakukannya penelitian. Untuk itu perlu diuraikan proses dalam
mengidentifikasi masalah penelitian.
PTK dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan
pembelajaran beserta pemecahannya. Maka dalam pendahuluan dikemukakan hal-hal
sebagai berikut:
Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/3 FAI-Unwahas/2012
a. Latar belakang masalah
Dalam latar belakang permasalahan hendaknya diuraikan urgensi
penanganan permasalahan yang diajukan melalui PTK. Untuk itu, harus
ditunjukkan fakta–fakta yang mendukung, baik yang berasal dari pengamatan
guru selama mengajar maupun dari kajian pustaka. Dukungan berupa hasil
penelitian terdahulu akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta
signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan.
Karakteristik khas PTK yang berbeda dari penelitian formal hendaknya tercermin
dalam uraian di bagian ini.
Oleh karena itu perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis yang meliputi:
1) Uraian tentang kedudukan mata pelajaran;
2) Gambaran umum isi mata pelajaran termasuk pembagian waktunya (RPP dan
lainnya);
3) Metode pembelajaran yang digunakan saat ini.
b. Masalah yang dihadapi ditinjau dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
4. Perumusan Masalah
Rumusan permasalahan penelitian pada umumnya berpangkal dari suatu
pertanyaan dari suatu permasalahan yang muncul dari benak peneliti karena
"ketidak-tahuan" mengenai suatu fenomena atau gejala. Misalnya: Apa yang
menyebabkan meningkatnya kenakalan remaja di sekolah?, Mengapa para siswa
kurang bergairah dalam belajar?
Permasalahan penelitian merupakan justifikasi/ alasan mengapa sebuah
penelitian perlu dilakukan. Justifikasi tergantung pada arti penting permasalahan,
sedangkan urgensi permasalahan dapat ditinjau dari banyak aspek.
Permasalahan dalam penelitian umumnya berupa pertanyaan seperti "What",
"whom", "where", dan "when". Pertanyaan atau permasalahan penelitian yang lebih
spesifik akan lebih baik karena dapat mengarahkan kegiatan peneltian yang lebih
spesifik pula.
Seringkali merumuskan permasalahan dianggap sebagai pekerjaan yang sulit.
Hal ini terjadi lebih disebabkan oleh kekurangan dalam menguasai permasalahan
Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/4 FAI-Unwahas/2012
pada bidangnya, atau kekurangan membaca literatur yang sudah ada, di samping
pengalaman yang belum cukup dalam bidang penelitian.
Permasalahan dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu dari teori yang sudah ada
(ekperimen) dan dari lapangan (survey). Pengumpulan data dari lapangan setelah
dianalisis dan diinterpretasikan harus dikaitkan dengan teori.
Untuk merumuskan permasalahan seringkali lebih mudah untuk berfikir
perbedaan antara "what is" (apa yang terjadi) dan "what should be" (apa yang
seharusnya terjadi). Permasalahan penelitian yang baik harus memenuhi beberapa
syarat, yaitu relevan dengan waktu timbulnya permasalahan, berhubungan dengan
problematika praktis, dapat mengisi "research gap", memungkinkan genelarisasi,
memiliki ketajaman dalam definisi/ pembatasan dari konsep-konsep utama, dan
dapat member peluang untuk memperbaiki metode penelitian bagi peneliti
berikutnya. Permasalahan dalam PTK dijabarkan secara lebih rinci. Permasalahan
diangkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang laik dan perlu
diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya permasalahan yang dimaksud hendaknya
bukan permasalahan yang secara teknis metodologis berada di luar jangkauan PTK.
Uraian permasalahan hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang
dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga
gambaran permasalahan yang perlu ditangani tampak menjadi perumusan masalah
tersebut. Dalam bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut.
Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang
menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan “kalimat
tanya” dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif
yang diantisipasi. Peneliti harus mengemukakan secara jelas bahwa masalah yang
diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di kelas, penting dan mendesak
untuk dipecahkan. Setelah didiagnosis (diidentifikasi) masalah penelitiannya, maka
perlu diidentifikasi dan dideskripsikan akar penyebab munculnya masalah.
5. Cara Pemecahan Masalah
Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk memecahkan
masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan masalah hendaknya mempunyai
landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Di
Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/5 FAI-Unwahas/2012
samping itu juga harus terbayangkan kemungkinan kemanfa’atan hasil pemecahan
masalah dalam rangka pembenahan dan/ atau peningkatan implementasi program
pembelajaran dan/ atau berbagai program sekolah lainnya. Kecuali itu harus
dicermati artikulasi kemanfa’atan PTK yang berbeda dari kemanfaatan penelitian
formal.
Uraikan pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah
yang diteliti, sesuai dengan kaidah Penelitian Tindakan Kelas (yang meliputi:
perencanaan-tindakan-observasi/ evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau
siklus). Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan
dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang dengan data yang lengkap dan baik.
6. Tinjauan Pustaka
Peneliti berusaha membaca pustaka terbaru, relevan, dan asli, misalnya jurnal
ilmiah, hasil penelitian terdahulu seperti skripsi, tugas akhir, atau lainnya.
Uraikan dengan jelas kajian pustaka yang menimbulkan gagasan dan
mendasari penelitian yang dilakukan. Tinjauan pustaka menguraikan teori, temuan,
dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan pustaka, yang dijadikan
landasan untuk untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan
dalam mengatasi permasalahan penelitian. Uraian dalam tinjaun pustaka digunakan
untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam
penelitian.
Pada bagian akhir dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan
tingkat keberhasilan tindakan yang diharapkan/ diantisipasi.
7. Tujuan Penelitian dan Manfa’atnya
a. Tujuan
Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara singkat dan jelas, yang ingin
dicapai dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan
umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.
Paparkan sasaran antara dan akhir tindakan perbaikan.
Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/6 FAI-Unwahas/2012
Perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang
dikemukakan dalam bagian–bagian sebelumnya. Dengan demikian artikulasi
tujuan PTK berbeda dari tujuan formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK
di bidang PAI yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran
PAI melalaui penerapan strategi PBM yang baru, pemanfaatan lingkungan
sebagai sumber belajar-mengajar, dan sebagainya.
Pengujian dan/ atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan
rumusan tujuan PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat
diverfikasi secara obyektif. Dan menjadi lebih baik jika dapat dikuantifikasikan.
b. Manfa’at Penelitian
Di samping tujuan peneliti juga perlu menguraikan kemungkinan manfa’at
penelitian. Maka perlu dipaparkan secara spesifik manfa’at yang dijanjikan,
khususnya bagi siswa sebagai pewaris langsung (direct beneficiaries) atas hasil
PTK, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan–rekan guru lainnya serta
bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru, dan bagi pengembangan ilmu.
Adapun teknologi dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK
walaupun kemungkinan kehadirannya bisa diharapkan dan terjadi.
8. Kontribusi Hasil Penelitian
Kontribusi hasil penelitian terhadap kualitas pendidikan dan/ atau
pembelajaran perlu dijelaskan, sehingga tampak manfa’atnya bagi peneliti,
mahasiswa, dosen, maupun komponen pendidikan lainnya. Inovasi yang akan
dihasilkan dari penelitian ini perlu dikemukakan terutama bagi pengembangan ilmu
pengetahuan.
9. Kerangka Teoretik dan Hipotesis Tindakan
Pada bagian ini diuraikan landasan substantif secara teoritis dan/ atau
metodologis yang dipergunakan oleh peneliti dalam menentukan alternatif yang akan
diimplementasikan. Untuk itu, dalam bagian ini perlu diuraikan kajian, baik
pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan maupun pelaku–pelaku PTK
lain di samping terhadap teori–teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan.
Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/7 FAI-Unwahas/2012
Argumentasi logis dan teoretis diperlukan untuk menyusun kerangka konseptual.
Dari kerangka konseptual tersebut hipotesis tindakan dapat dirumuskan.
10. Metode Penelitian
a. Jenis Penelitian dan Pendekatannya
Mula-mula perlu dijelaskan jenis penelitian yang sedang dilakukan, dan
pendekatan apa yang akan dipergunakan. Jenis dan pendekatan perlu disampaikan
untuk mempermudah dan mempertegas metode apa yang akan digunakan untuk
mengumpulkan data atau prosedurnya.
b. Prosedur penelitian
Prosedur penelitian yang akan dilakukan harus diuraikan secara jelas.
Kemukakan obyek, waktu, dan lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya
dirinci berupa perencanaan-tindakan-observasi/ evaluasi-refleksi, yang bersifat
daur ulang atau siklus.
Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan tingkat
keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya.
Jumlah siklus disyaratkan lebih dari dua siklus.
c. Data dan cara pengumpulannya
Pada bagian ini jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan
proses maupun dampak tindakan perbaikan yang dilakukan ditunjukkan secara
jelas, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau
kekurang-berhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format
data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya.
Di samping itu teknik pengumpulan data yang diperlukan juga harus
diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal
harian, observasi aktivitas di kelas (termasuk berbagai kemungkinan format dan
alat bantu rekam yang akan digunakan), penggambaran interaksi dalam kelas
(analisis sosiometrik), pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur
asesmen, dan sebagainya.
Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/8 FAI-Unwahas/2012
Dalam prosedur pengumpulan data PTK tidak boleh dilupakan bahwa
sebagai pelaku PTK, para guru harus aktif sebagai pengumpul data, bukan
semata–mata sebagai sumber data. Semua teknik pengumpulan data yang
digunakan harus mendapat penilaian kelayakan yang cermat dalam konteks PTK.
11. Rencana Penelitian
Rencana penelitian merupakan prosedur yang harus dilalui oleh peneliti.
Dalam renacana penelitian tercakup hal-hal berikut ini:
a. Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian
Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas
berapa dan bagaimana karakteristik kelas tersebut seperti komposisi siswa pria
dan wanita. Latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan
permasalahan, tingkat kemampuan, dan lainnya. Aspek substantif permasalahan
seperti Baca-Tulis siswa kelas II SD atau kemampuan berbahasa Arab siswa kelas
V MI, juga dikemukakan pada bagian ini.
b. Variabel penelitian
Pada bagian ini ditentukan variabel–variabel penelitian yang dijadikan
obyek pijakan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel dalam PTK
dapat berupa:
1) variabel input yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber
belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lainnya;
2) variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar,
keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa,
implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan
3) varaibel output seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa
mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap
terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan,
dan sebagainya.
c. Rencana Tindakan
Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/9 FAI-Unwahas/2012
Peneliti mendeskripsikan rencana tindakan untuk meningkatkan
pembelajaran dengan langkah sebagai berikut:
1) Perencanaan; yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang
diprakarsai seperti penetapan entry behaviour. Maka pelancaran tes diagnostik
dilakukan untuk menspesifikasi masalah. Pembuatan skenario pembelajaran,
pengadaan alat–alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain–lin yang terkait
bdengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Di
samping itu juga diuraikan alternatif–alternatif solusi yang akan dicobakan
dalam rangka perbaikan masalah. Format kemitraan antara guru dengan dosen
LPTK juga harus dikemukakan pada bagian ini.
2) Implementasi Tindakan; yaitu deskripsi tindakan yang akan dilakukan. Juga
skenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.
3) Observasi dan Interpretasi; yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan
penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan
perbaikan yang dirancang.
4) Analisis dan Refleksi; yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil
pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan
perbaikan yang akan dilakukan, pihak-pihak yang akan dilibatkan, serta
kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.
d. Indikator kinerja
Pada bagaian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan
secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindak perbaikan
melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu
ditetapkan kriteria keberhasilan dalam bentuk pengurangan (jumlah jenis dan/
atau tingkat kegawatan) miskonsepsi yang yang patut diduga sebagai dampak dari
implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.
e. Tim Peneliti dan Tugasnya
Jika PTK dilakukan secara beregu maka pada bagian ini hendaknya
dicantumakan nama–nama anggota tim peneliti dan uraian tugas peran setiap
Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/10 FAI-Unwahas/2012
anggota tim peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk
kegiatan penelitian.
12. Jadwal Penelitian
Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam bentuk matriks yang
mendeskripsikan urutan kegiatan dari awal sampai akhir.
13. Penyusunan Laporan Hasil PTK
Pembiayaan yang termasuk dalam bagian ini adalah penyusunan konsep
laporan, review konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir, seminar lokal
hasil penelitian, seminar nasional hasil penelitian, dan sebagainya.
Jika PTK dilakukan atas biaya dari sponsor maka perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a. Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan
Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang
dijabarkan dari metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya,
kegiatan operasional harus jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah
pesertanya, sarana yang diperlukan, dan output yang diharapkan.
b. Beberapa patokan pembiayaan satuan kegiatan penelitian, yaitu:
1) Honorarium; bagi tim peneliti, yaitu:
a) Ketua Peneliti
b) Anggota tim peneliti
c) Tenaga Administrasi
2) Bahan dan Peralatan penelitian seperti:
a) Bahan habis pakai
b) Alat habis
c) Sewa alat
3) Perjalanan
a) Biaya perjalanan sesuai dengan ketentuan
b) Transportasi local sesuai harga setempat
c) Lumpsum termasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan
d) Monitoring dari PGSM minimal untuk satu orang, satu kali, selama dua hari
e) Konsultasi ketua tim peneliti ke PGSM selama dua hari
Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/11 FAI-Unwahas/2012
4) Laporan Penelitian
a) Penggandaan
b) Penyusuinan artikel berbahasa Indonesia dan inggris
c) Pengiriman
5) Seminar
a) Seminar lokal, konsumsi sesuai harga setempat, biaya penyelenggaraan
sesuai dengan harga setempat
b) Seminar nasionala minimal untuk dua orang (satu dosen LPTK dan satu
guru pelaku PTK)
14. Daftar Pustaka
Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang. Hendaknya pustaka
benar–benar relevan dan sungguh–sungguh dipergunakan dalam penelitian.
15. Lampiran dan Lain–Lain
Bagian lampiran dapat berisi curriculum vitae (CV) peneliti/ para anggota tim
peneliti. CV tersebut memuat identitas ketua anggota tim peneliti, riwayat
pendidikan, pelatihan di bidang penelitian yang telah pernah diikuti, baik sebagai
penatar/ pelatih maupun sebagai peserta, dan pengalaman dalam penelitian termasuk
di PTK.
Hal–hal lain yang dapat memperjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan
dapat disertakan dalam proposal penelitian.
Mahlail Syakur Sf.
Format Proposal PTK Workshop PTK/12 FAI-Unwahas/2012

Lampiran 1: Contoh cover depan

Minggu, 12 Februari 2012

Tugas MSI

Tugas Rumah TextHome dikerjakan sebagai tugas akhir


Tugas Rumah (Text Home)

UJIAN AKHIR

Semester Gasal 2011/2012

Mata Ujian : Metodologi Studi Islam

Bobot : 2 sks

Progdi : PAI/ Mu’amalat/ PGMI

Jenjang : Strata Satu (S1)

Dosen : Mahlail Syakur Sf.

Ketentuan Umum:

1. Ujian ini merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh setiap mahasiswa di rumah sebagai Text Home;

2. Tugas harus diketik rapi dengan font jenis Time New Roman, ukuran 12, jarak 1,5 spasi di atas kertas kwarto, serta menggunakan catatan kaki (footnote);

3. Tugas bersifat individual dan dikumpulkan di fakultas atau melalui koordinator /lewat ketua kelas masing-masing (tanpa dijilid ataupun cover, cukup distaples), paling lambat tanggal 3 Maret 2012, (dibendel berdasarkan kelas);

4. Tugas yang dikumpulkan harus disertai fotokopi Kartu Studi Tetap (KST) , bukan KRS, dan fotokopi Kartu Mahasiswa yang masih berlaku;

5. Mahasiswa yang tidak memenuhi ketentuan di atas (no. 4) lebih baik tidak mengumpulkan tugas.

6. Tema kajian meliputi bidang ilmu kalam/ 'aqidah, ilmu akhlaq/ tashawwuf, ilmu fiqh, ilmu al-Qur`an/ tafsir, ilmu hadits, ilmu sejarah, ilmu pendidikan/ da'wah, dan sebagainya. (masing-masing kajiannya meliputi: pendahuluan, pengertian, ruang lingkup kajian, sumber kajian dan obyeknya, tujuan dan manfa'at mempelajarinya, urgensinya dalam kajian keislaman).

Ingat !!!!!!!!

- Ini adalah tugas individu (fardlu ‘ain). Jangan lupa Nama dan NIM.

- Nasib kelompok tidak ditentukan oleh individu. Maka jika ada seorang yang belum memenuhi ketentuan, maka harus ditinggal agar jangan sampai mengorbankan lainnya hingga tugas terlambat dikumpulkan.

- Terlambat mengumpulkan tugas berakibat dikurangi nilainya/ ditolak.

Ketentuan Khusus:

1. Setiap mahasiswa wajib membuat makalah singkat tentang Metodologi Studi Islam.

2. Setiap Tema dikerjakan oleh masing-masing anggota kelompok berdasarkan kesepakatan di bawah koordinasi ketua kelas.

3. Pada bagian pendahuluan harus mencatumkan rumusan masalah.

4. Setiap mahasiswa wajib mengerjakan sendiri tetapi dalam koordinasi kelompok.

5. Jika ada pekerjaan yang sama, maka semuanya dibatalkan sebagai tugas akhir (tidak diberi nilai).

6. Tugas yang dikumpulkan harus diarsip dan ditandatangani oleh pemiliknya.

Selamat mengerjakan tugas, semoga sukses

مع النجاح

Selasa, 07 Februari 2012

Tugas Ulum al-Hadits 2012

Tugas Rumah TextHome dikerjakan sebagai tugas akhir


Tugas Rumah (Text Home)

UJIAN AKHIR

Semester Gasal 2011/2012

Mata Ujian : ‘Ulum al-Hadits

Bobot : 3 sks

Progdi : PAI/ Mu’amalat/ PGMI

Jenjang : Strata Satu (S1)

Dosen : Mahlail Syakur Sf.

Ketentuan Umum:

1. Ujian ini merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh setiap mahasiswa di rumah sebagai Text Home;

2. Tugas harus diketik rapi dengan font jenis Time New Roman, ukuran 12, jarak 1,5 spasi di atas kertas kwarto;

3. Tugas bersifat individual dan dikumpulkan di fakultas atau melalui koordinator daerah, lewat ketua kelas masing-masing (tanpa dijilid ataupun cover, cukup distaples), paling lambat tanggal 3 Mare 2012, (dibendel berdasarkan kelas);

4. Tugas yang dikumpulkan harus disertai fotokopi KST (bukan KRS) dan fotokopi Kartu Mahasiswa yang masih berlaku;

5. Mahasiswa yang tidak memenuhi ketentuan di atas (no. 4) lebih baik tidak mengumpulkan tugas.

Ingat !!!!!!!!

- Ini adalah tugas individu (fardlu ‘ain).

- Nasib kelompok tidak ditentukan oleh individu. Maka jika ada seorang yang belum memenuhi ketentuan, maka harus ditinggal agar jangan sampai mengorbankan lainnya hingga tugas terlambat dikumpulkan.

- Terlambat mengumpulkan tugas berakibat dikurangi nilainya.

Ketentuan Khusus:

1. Setiap mahasiswa wajib membuat Resume tentang ‘Ulum al-Hadits sesuai tema yang ada dalam silabi ‘Ulum al-Hadits berdasarkan kesepakatan di bawah koordinasi ketua kelas.

2. Sumber terserah mahasiswa, asal bertema ‘Ulum Hadits.

3. Buku yang dijadikan rujukan harus dijelaskan (judul, nama penulis, penerbit, th, dan halm) pada bagian pendahuluan.

4. Setiap mahasiswa wajib menngerjakan sendiri.

5. Jika ada pekerjaan yang sama, maka semuanya dibatalkan sebagai tugas akhir (tidak diberi nilai).

6. Tugas yang dikumpulkan harus diarsip dan ditandatangani oleh pemiliknya.

Selamat mengerjakan tugas, semoga sukses

مع النجاح

Senin, 16 Januari 2012

Nasikh-Mansukh

NASIKH-MANSUKH
Dalam Kitab al-Itqan karya al-Imam al-Suyuthi
Oleh Mahlail Syakur Sf.
(Peserta Pelatihan Kader Mufassir (PKM) pada Pusat Studi al-Qur`an Jakarta)

Pengertian
Menurut bentuk dasarnya, dua kata tersebut berasal dari kata kerja nasakha () yang berarti “merusak” atau “menghapus”. Sedangkan kata Nasikh () merupakan bentuk fa’il yang berarti “yang menghapus” atau “yang merusak”, dan mansukh () adalah bentuk kata maf’ul yang berarti “yang dirusak” atau “yang dihapus”.

Dari segi bahasa, menurut al-Hazimi sebagaimana yang dikutip oleh ‘Itr, kata naskh () mempunyai dua makna, yaitu:
1. Pembatalan (ibthal) dan penghapusan (izalah) seperti .... Atau seperti ungkapan dalam al-Qur`ân: Maka Allâh menghapus apa …).
2. Pemindahan atau pengutipan (naql), misalnya ...

Menurut al-Suyuthi, naskh dapat dipahami dengan empat makna sebagai berikut:
1. Penghapusan, penghilangan () seperti ...
2. Penggantian, penukaran () seperti ...
3. Perubahan () seperti ...
4. Pemindahan dari satu tempat ke tempat lain, pengutipan, penyalinan () seperti dalam ungkapan "Aku menyalin apa yang ada di dalamnya ....

Dengan demikian dapat dipahami bahwa kata nâsikhmerupakan bentuk fâ’il yang berarti yang menghapus, sedangkan kata mansukh adalah berbentuk maf’ul, sehingga artinya adalah yang dinasakh (sesuatu yang dihapus). Bila dikaitkan dengan ayat al-Qur`ân, maka makna kata mansukh ....

Dalam perspektif para ahli fiqh kata naskh dapat didekati dengan dua pengertian, yaitu:
1. Membatalkan hukum yang diperoleh dari nas yang telah datang terlebih dahulu dengan suatu nas yang datang kemudian. Misalnya, ....
2. Menghilangkan atau menghapus keumumam nas yang telah datang lebih dahulu, atau mentaqyidkan kemuthlaqan nas. Misalnya dalam surah al-Baqarah ...

Adapun dalam pengertian terminologi ‘Ulum al-Qur`ân, naskh dipahami sebagai cara syari’at menghapus hukum yang berlaku terlebih dahulu dengan hukum yang berlaku kemudian.
Nasikh–mansukh merupakan ilmu yang sangat urgen dalam studi al-Qur`an, sehingga para ‘ulama (dalam bidang ‘Ulum al-QUr`an) menyatakan: “Seseorang tidak boleh menafsirkan Kitab Allah kecuali setelah mengetahui nasikh-mansukh”. Dalam konteks ini Shahabat ‘Ali ibn Abi Thalib kw. suatu ketika bertanya kepada seorang penghulu (qadli): “Sudahkah Anda memahami nasikh-mansukh (dalam al-Qur`an)?” “Belum”, kata penghulu. Maka ‘Ali menyatakan: “Engkau rusak dan merusakkan”.

Pendapat al-Suyuthi tentang Nasikh-Mansukh
Nasikh-Mansukh dalam al-Qur`an masih menjadi perdebatan di kalangan para ‘ulama di bidang ‘Ulum al-Qur`an. Di antara mereka ada yang berpendapat “tidak ada nasikh-mansukh dalam al-Qur`an”.
Umumnya mereka yang berpendapat demikitan berpedoman pada ayat: Yang tidak datang kepadanya (al-Qur`ân) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya …

Firman-Nya dalam ayat lain yang dijadikan pedoman: Apa saja ayat yang Kami nashkkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya …

Atau dengan ayat: Sesungguhnya Kami-lah telah menurunkan al-Dzikr dan sesungguhnya Kami benar-benar me-meliharanya.

Menurut al-Imam al-Suyuthi, di dalam al-Qur`an terdapat nasikh-mansukh yang dapat diklasifikasi menjadi tiga kategori, ...

Sya’ir yang dikutip oleh as-Suyuthi menerangkan jumlah tema ayat berkenaan nasikh-mansukh yang dapat diurai sebagai berikut:
1. Tentang ke arah mana seseorang menghadap
2. Tentang berwasiat kepada ahli waris
3. Tentang larangan makan di malam hari
4. Tentang fidyah bagi orang mampu berpuasa
5. Tentang kewajiban taqwa
6. Tentang perang di bulan yang mulia
7. Tentang hitungan setahun
8. Tentang wasiat
9. Tentang berita tentang diri dan pikiran
10. Tentang sumpah
11. Tentang hukuman jera bagi pezina
12. Tentang meninggalkan kesaksian orang kafir
13. Tentang sikap sabar
14. Tentang sikap bepergian/ berjihad
15. Tentang larangan akad nikah bagi pezina
16. Tentang hak akad nikah bagi Nabi saw.
17. Tentang penarikan mahar
18. Tentang keselamatan
19. Tentang qiyam al-lail
20. Tentang permohonan izin
21. Tentang qismah



____
Ciputat, 17 April 2011
Mahlail Syakur Sf.

Minggu, 08 Januari 2012

Haji Tamu Raja


nikmat sekali menunaikan ibadah haji melalui program Tamu Raja 1432 H./ 2011
برنامج ضيوف خادم الحرمين الشريفين

Berangkat dari Indonesia tanggal 1 Nopember 2011/ 4 Dzul Hijjah 1432 H., pulang 12 Nopember 2011/ 16 Dzul Hijjah 1432 H.
Mahlail Syakur ibn Shaffar dari Universitas Wahid Hasyim Semarang