Jumat, 20 Juli 2018

Kewiraswastaan dalamal-Qur`an



KONSEP KEWIRASWASTAAN & KEWIRAUSAHAAN DALAM AL-QUR`ÂN
Oleh Mahlail Syakur Sf.




Al-Qur`ân adalah Kitab Suci bagi ummat Islam yang mempunyai banyak fungsi bagi kehidupan manusia. Salah satu di antaranya adalah sebagai petunjuk bagi manusia (huda> li an-na>s = هدى للناس)[1] tanpa memandang apa pun agama dan golongannya sehingga mampu mengembangkan kesadaran masyarakat ketika itu sebagai kesatuan etnis dan kultural yang berhasil dibangun oleh Nabi Muhammad saw. Fungsi ini dijelaskan dalam surah al-Baqarah:
ãöky­ tb$ŸÒtBu‘ ü“Ï%©!$# tAÌ“Ré& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# ”W‰èd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3“y‰ßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4  ...[2]
((Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur`ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. ...).

Namun di sisi lain al-Qur`ân merupakan petunjuk bagi orang-orang bertaqwa (huda> li al-muttaqi>n = هدى للمتّقين)[3] dalam arti khusus, yang diturunkan sebagai kitab yang tidak memiliki cacat atau pun kekurangan[4] dan tidak ada yang diragukan sedikit pun seluruh isinya sebagaimana dinyatakan dalam surah al-Baqarah (2) ayat 2. Lebih dari itu al-Qur`ân sendiri secara tegas dan jelas mendeklarasikan diri akan menjadi petunjuk bagi siapa pun yang hendak mencari kebenaran, sekaligus memberi informasi bahwa orang-orang beriman yang baik amalnya akan memperoleh pahala. Penegasan tersebut terdapat dalam surah al-Isra>` (17):
¨bÎ) #x‹»yd tb#uäöà)ø9$# “ωöku‰ ÓÉL¯=Ï9 š†Ïf ãPuqø%r& çŽÅe³u;ãƒur tûüÏZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# tbqè=yJ÷ètƒ ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; #\ô_r& #ZŽÎ6x.  [5]
(Sesungguhnya al-Qur`ân ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar).


Sebagai petunjuk, al-Qur`ân memang bukan merupakan buku tentang kewiraswastaan ataupun kewirausahaan tetapi banyak didapat konsep yang memberikan pesan kepada manusia agar hidup berlandaskan jiwa dan semangat wirasawsta dan wirausaha.
Di antara ayat-ayat al-Qur`ân yang berisi pesan kewiraswastaan dan kewirausahaan adalah:
1.    Surat al-An’am (6) ayat 164:
.... Ÿwur Ü=Å¡õ3s? ‘@à2 C§øÿtR žwÎ) $pköŽn=tæ 4 Ÿwur â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 3“t÷zé& 4  ...
(…. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. …)

2.    Surah al-Isra` (17) ayat 15:
Ç`¨B 3“y‰tF÷d$# $yJ¯RÎ*sù “ωtGöku‰ ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur ¨@|Ê $yJ¯RÎ*sù ‘@ÅÒtƒ $pköŽn=tæ 4 Ÿwur â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 3“t÷zé& 3 ...
(Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, …)

Di dalam dua ayat tersebut Allah telah menyatakan bahwa setiap pribadi yang melakukan sesuatu kejahatan akan menerima balasan hukuman yang dilakukannya sebagai bentuk pertanggungjawaban hukum. Ini berarti bahwa tidak boleh sekali-kali beban (dosa/ hukuman) seseorang dijadikan beban pada orang lain.

3.    Surah Fathir (35) ayat 12:
$tBur “ÈqtGó¡o„ Èb#tóst7ø9$# #x‹»yd Ò>õ‹tã ÔN#tèù Ô÷ͬ!$y™ ¼çmç/#uŽŸ° #x‹»ydur ìxù=ÏB Ól%y`é& ( `ÏBur 9e@ä. tbqè=à2ù's? $VJóss9 $wƒÌsÛ tbqã_̍÷‚tFó¡n@ur ZpuŠù=Ïm $ygtRqÝ¡t6ù=s? ( “ts?ur y7ù=àÿø9$# ÏmŠÏù tÅz#uqtB (#qäótGö;tGÏ9 `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù öNä3¯=yès9ur šcrãà6ô±n@  
(Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur).

4.    Surah an-Najm (53) ayat 38-41:
žwr& â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 3“t÷zé& ÇÌÑÈ  br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy™ ÇÌÒÈ  ¨br&ur ¼çmuŠ÷èy™ t$ôqy™ 3“tãƒ ÇÍÉÈ  §NèO çm1t“øgä† uä!#t“yfø9$# 4’nû÷rF{$# ÇÍÊÈ   
(Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,  dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.  Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna).

5.    Surat al-Muddatsir (74) ayat 38 yaitu:
‘@ä. ¤§øÿtR $yJÎ/ ôMt6|¡x. îpoY‹Ïdu‘  
(Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya).

Di dalam surat al-Muddatsir (74) ayat 38 tersebut diterangkan bahwa setiap jiwa terikat pada apa yang dikerjakannya, dan setiap orang tidak akan memikul dosa atau kesalahan yang dibuat oleh orang lain. Pertanggungjawaban hukum hanya akan dipikul oleh pelakunya. Keterlibatan pihak lain juga akan melahirkan pertanggungjawaban hukum bagi para pihak sebatas apa yang menjadi tanggungjawabnya secara proporsional.



Dari ayat-ayat tersebut dapat diambil pemahaman bahwa orang tidak dapat diminta memikul pertanggungjawaban hukum mengenai kejahatan atau kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Karena pertanggungjawaban hukum itu individual sifatnya, maka tanggungjawab kesalahan seseorang tidak dapat dipindahkan kepada orang lain.
Kecuali ayat-ayat tersebut terdapat pula ayat-ayat dalam al-Qur`ân yang memberi pesan agar setiap individu manusia berusaha semaksimal mungkin dalam memperbaiki keadaan dirinya, baik terkait dengan mencari ridla Allâh melalui berbagai kegiatan ’ubudiyyah maupun dalam kerangka meningkatkan kesejahteraan hidup dengan menciptakan berbagai usaha dan amal nyata. Di antara ayat-ayat yang dimaksud adalah:
1.    Firman Allâh dalam surah ar-Ra’d (13) ayat 11:
....  3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 !...
(…. Sesungguhnya Allâh tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. …).
2.    Surah at-Tawbah (9) ayat 105:
È@è%ur (#qè=yJôã$# “uŽz|¡sù ª!$# ö/ä3n=uHxå ¼ã&è!qß™u‘ur tbqãZÏB÷sßJø9$#ur ( šcr–ŠuŽäIy™ur 4’n<Î) ÉOÎ=»tã É=ø‹tóø9$# Íoy‰»pk¤9$#ur /ä3ã¥Îm7t^ã‹sù $yJÎ/ ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès?   
(Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, …).
3.    Surah al-Jum’ah (62) ayat 10:
#sŒÎ*sù ÏMuŠÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãÏ±tFR$$sù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè?   
(Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung).
4.    Surah al-Inshirah (94) ayat 5-7:
¨bÎ*sù yìtB ÎŽô£ãèø9$# #·Žô£ç„ ÇÎÈ   ¨bÎ) yìtB ÎŽô£ãèø9$# #ZŽô£ç„ ÇÏÈ   #sŒÎ*sù |Møîtsù ó=|ÁR$$sù ÇÐÈ
(5. Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, 6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain).
5.    Dalam Surah al-Baqarah (2) ayat 286 terdapat frase:
Ÿw ß#Ïk=s3ムª!$# $²¡øÿtR žwÎ) $ygyèó™ãr 4 $ygs9 $tB ôMt6|¡x. $pköŽn=tãur $tB ôMt6|¡tFø.$# 3 ...  
(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. …).
6.    Ayat-ayat yang mengisahkan Dzul Qanayn yang memberdayakan rakyatnya dalam membangun negaranya juga mengisyaratkan nilai-nilai kewiraswastaan dan kewirausahaan (surah al-Kahf ayat 83 dan seterusnya).

Di samping ayat-ayat tersebut, Islâm telah mengajarkan kepada manusia agar memiliki jiwa wiraswasta dan wirausaha. Banyak hadits nabawi yang mengisyaratkan hal tersebut. Misalnya:
1.    Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari yang menerangkan bahwa sikap hidup yang baik adalah menikmati hasil jerih payah sendiri:
أَخْبَرَنَا أَبُو عَمْرومُحَمَّد بْن عَبْد الله الْأَدِيْب أَنَا أَبُوْبَكْراْلإِسْمَاعِيْلِيّ أَنَا أَبُو يَحْيَى الرُوِيَاني ثَنَا إِبْرَاهِيْم هُوَ ابْن مُوْسَى الْفَرَّاء ثَنَا عِيْسَى بْن يُوْنُس ثَنَا ثور عَن خَالِد بْن معدان عَن المقدام بْن معد يكرب أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا أَكَلَ أَحَدٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ طَعَامًا خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ إِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السلام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ كَسْبِ يَدِهِ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ عَن إِبْرَاهِيْم بْن موسى). 11461\ البيهقي في سننه الكبرى ج6/ص127 ح11471

2.    Hadits yang diriwayatkan oleh Imam ibn Hanbal berisi pesan yang sama dengan hadits di atas:
حدثنا عبد الله حدثني أبي حدثنا أسحق حدثنا محمد بن عمار مؤذن مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم قال سمعت سعيد المقبري يقول سمعت أبا هريرة يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ان خير الكسب كسب يدي عامل إذا نصح  (ابن حنبل في مسنده ج2/ص358 ح8676)


Hadits-hadits lainnya dapat disebutkan sebagai berikut:
حدثنا محمد بن المنهال ثنا يزيد بن زريع ثنا حبيب المعلم عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده : أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إن لي مالا وولدا وإن والدي يحتاج مالي قال أنت ومالك لوالدك إن أولادكم من أطيب كسبكم فكلوا من كسب أولادكم ( \3530\ أبي داود في سننه ج3/ص289 ح3530)

عن أبي هريرة قال قال النبي صلى الله عليه وسلم: إذا أنفقت المرأة من كسب زوجها من غير أمره فله نصف أجره

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا لا تصم المرأة وبعلها شاهدٌ إلا بإذنه ولا تأذن في بيته وهو شاهدٌ إلا بإذنه وما أنفقت من كسبه من غير أمره فإن نصف أجره له  (رواه مسلم)

وأخرجه البخاري من حديث شعيب بن أبي حمزة عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} قال لا يحل للمرأة أن تصوم وزوجها شاهدٌ إلا بإذنه ولا تأذن في بيته إلا بإذنه وما أنفقت من نفقة من غير إذنه فإنه يؤدى إليه شطره . قال البخاري ورواه أبو الزناد أيضاً عن موسى بن أبي عثمان عن أبيه عن أبي هريرة في الصوم وقال أبو مسعود وليس بالهندي يعني أن أبا عثمان والد موسى هذا ليس بأبي عثمان الهندي  (رواه البخاري)

وقد أخرج البخاري طرفاً من زيادة مسلم من حديث همام بن منبه عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم :قال لا تصم المرأة وبعلها شاهدٌ إلا بإذنه لم يزد وجعله أبو مسعود من أفراد البخاري ونسي حديث مسلم الذي ذكرناه هذا الحديث - والله أعلم - كقوله عليه السلام في الحديث الآخر  إذا أنفقت المرأة عن طعام بيتها غير مفسدة ٍ كان لها أجرها بما أنفقت ولزوجها بما كسب  (رواه البخاري)

وللبخاري مثل ذلك وفي حديث عمير مولى آبي اللحم في صدقته من مال مولاه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: الأجر بينكما نصفان  (رواه البخاري)

وفي حديث سعيد بن عمير عن النبي صلى الله عليه وسلم مرسلا أنه سئل : أي كسب الرجل أطيب ؟ قال : عمل الرجل بيده ، وكل بيع مبرور » وروي ذلك موصولا واختلف في إسناده (رواه البيهقي)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ ، فَاحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَلا تَعْجِزْ ، فَإِنْ غَلَبَكَ أَمْرٌ فَقُلْ : قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ اللَّهُ ، وَإِيَّاكَ وَاللَّوَّ ، فَإِنَّ اللَّوَّ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.
وفي الحديث: قال النبي: ليس بخيركم من ترك دنياه لآخرته ولا آخرته لدنياه حتى يصيب منهما جميعا فإن الدنيا بلاغ إلى الآخرة ولا تكونوا كَلاًّ على الناس  (رواه الديلمى ، وابن عساكر عن أنس)


Perlu diketahui bahwa Islam tidak membenarkan ummatnya berprofessi sebagai peminta dan sebaliknya senantiasa menekankan agar mereka menjadi pemberi. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya ayat yang memerintahkan mengeluarkan zakat dan shadaqah, tetapi tidak ada ayat yang bernada perintah untuk meminta kecuali dalam hal ilmu dan pengetahuan sebagaimana tersebut dalam surah an-Nahl ayat 43 dan surah al-Anbiya` ayat 7:
.... 4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès?
(…. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui).

Sekian, dan semoga bermanfa’at bagi kita, dan semoga kita menjadi orang yang berjiwa wiraswasta dan wirausaha dalam arti mampu memberdayakan potensi diri sehingga mampu mensyukuri nikmat-nikmat Allâh dalam menggapai kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
-- MS2F -- 

[1] Fungsi al-Qur`ân sebagai petunjuk dapat pula diperhatikan ayat-ayat lain seperti dalam surah Ali ‘Imran (3) ayat 4.
[2]Al-Qur`ân, 2 (al-Baqarah): 185.
[3]Al-Qur`ân, 2 (al-Baqarah): 2, al-Qur`ân, 17 (al-Isra>`): 9, dan al-Qur`ân, 5 (al-Ma>idah): 46.
[4]Al-Qur`ân, 18 (al-Kahf): 1, dan al-Qur`ân, 39 (az-Zumar): 28.
[5]Al-Qur`ân, 17 (al-Isra>`): 9.

Senin, 14 September 2015

Tugas Makalah & Resume / Book Review

MAKALAH & RESUME

 
Penugasan perkuliahan ada dua bentuk/ model, yaitu menyusun makalah dan resume (book review).
Namun mahasiswa pada mata kuliah ‘Ulum al-Hadits atau ‘Ulum al-Qur`ân yang saya ampu diwajibkan mengerjakan RESUME.

Tugas merupakan tanggungjawab individu, tetapi pembagian tema/ subtema dilakukan secara koordinatif dipandu oleh Ketua Kelas.

Adapun ketentuannya sebagai berikut.

1.  MAKALAH
Jika mahasiswa akan mengerjakan makalah untuk tugas mata kuliah maka perlu memperhatikan ketentuan sederhana sebagai berikut.

a.    Unsur-unsur makalah
Setiap makalah sekurang-kurangnya memuat unsur-unsur pokok, yaitu:
1)   Judul Makalah (ditulis di tengah atas dengan HURUF KAPITAL)
2)   Nama pemakalah (ditulis di bawah judul)
3)   Sistematika

Makalah singkat sekurang-kurangnya disusun atas empat komponen dengan sistematika sebagai berikut:
A.  Pendahuluan
Bagian ini sekurang-kurangnya memuat pengantar yang berupa latarbelakang pembahasan, dan rumusan masalah.
B.  Pembahasan
-    Dalam bagian ini pemakalah menyajikan data / kajian serta pembahasan terhadap masalah-masalah yang telah dirumuskan di bagian pendahuluan.
-    Banyak / sedikit pembahasan bergantung pada jumlah rumusan masalah.
-    Menggunakan footnote (bukan innoote atau endnoot).
C.  Simpulan
Pada bagian ini pemakalah membuat simpulan dan mengakhiri makalah dengan kalimat penutup.
D.  Daftar Bacaan/ Pustaka
-  Daftar pustaka merupakan daftar buku yang digunakan sebagai rujukan makalah;
-  Daftar pustaka disusun berdasarkan ketentuan yang berlaku.

b.    Ketentuan Penulisan Makalah
1)   Makalah ditulis dengan jarak 1,5 spasi  dan margin 4 (kiri), 3 (atas), 3 (kanan), dan 3 (bawah).
2)   Setiap sumber data harus dicantumkan dalam bentuk catatan kaki (footnote).
3)   Makalah tidak perlu dijilid, tetapi cukup distaples pojok atas.
4)   Hendaknya setiap tugas digandakan untuk seluruh peserta kuliah dalam kelas agar masing-masing mahasiswa mempunyai seluruh tugas utnuk djadikan kenangan ilmiah.
-------------

2.  BOOK REVIEW /  RESUME
Jika mahasiswa akan mengerjakan tela’ah buku (book review) untuk tugas mata kuliah maka perlu memperhatikan ketentuan sederhana sebagai berikut
a.    Unsur-unsur Resume / Book Review
Setiap tulisan sekurang-kurangnya memuat unsur-unsur pokok, yaitu:
1)   Judul Resume (ditulis di tengah atas dengan HURUF KAPITAL)
2)   Nama pemakalah (ditulis di bawah judul)
3)   Sistematika

Resume atau book review singkat sekurang-kurangnya disusun dengan sistematika sebagai berikut:
A.  Pendahuluan
Bagian ini sekuarang-kurangnya memuat:
-          pengantar yang berupa latarbelakang pembahasan,
-          pengenalan buku yang ditela’ah / diresume (judul buku, penulis, penerbit, tahun, dan halaman yang direview), dan
-          rumusan masalah.
B.  Pembahasan
Yang dilakukan oleh bookreviewer dalam bagian ini adalah:
-        menyajikan data / kajian serta pembahasan terhadap masalah-masalah yang telah dirumuskan di bagian pendahuluan, yang bersumber dari buku yang diresume;
-        Banyak / sedikit (volume) pembahasan / sajian bergantung pada jumlah rumusan masalah yang ditawarkan.
C.  Analisis
- Pada bagian ini penulis bisa menilai sumber/ buku yang direview, menimbangnya, maupun membandingkannya dengan pemikiran dalam buku lain.
- Menggunakan footnote jika diperlukan (lebih baik).
D.  Penutup
Bookrevew / resume diakhiri dengan kalimat penutup tanpa simpulan.
------------

b.    Ketentuan Penulisan Resume & Makalah
1)   Resume/ bookreview ditulis dengan jarak 1,5 spasi  dan margin 4 (kiri), 3 (atas), 3 (kanan), dan 3 (bawah);
2)   Setiap sumber data (buku) dalam analisis harus dicantumkan dalam bentuk catatan kaki (footnote).
3)   Resume / book review tidak perlu dijilid, tetapi cukup distaples pojok atas.
4)   Hendaknya setiap tugas digandakan untuk seluruh peserta kuliah (kelas) agar masing-masing mahasiswa mempunyai seluruh tugas untuk dijadikan kenangan ilmiah di hari mendatang.

--------------ms2f-----------
Jika ada kesulitan dalam mengerjakan tugas, mahasiswa dimohon menghubungi dosen pengampu.
M. Syakur Sf. (MS2F)
Hp       : 081326789779
Blog    : syakur unwahas
e-mail :  syakur_cahkudus@yahoo.co.id

Silabi 'Ulum al-Hadits

Syllabus
علوم الحديث
Mata Kuliah : ‘ILUM AL-HADITS
Bobot : 3 SKS
Prodi : Strata Satu (S1)

Jurusan/ Prodi : PAI, Mu’amalat, PGMI
Pengampu : Drs. H. Mahlail Syakur Sf., M.Ag.

1. Tema
I. TERMINOLOGI HADITS
A. Pengenalan istilah Hadits, Sunnah, Khabar dan Atsar
B. Klasifikasi Hadits Berdasarkan Redaksi
C. Hadits dan Sunnah
D. Struktur Hadits: Sanad, Matan dan Mukharij
E. Sebutan bagi Ahli Hadits

II. KEDUDUKAN HADITS
A. Dalil Kehujjahan Hadits
B. Fungsi Hadits terhadap al-Qur`ân
C. Hadits Nabawi dan Hadits Qudsi

III. ‘ULUM AL-HADITS
A. Pengertian
B. Cabang ‘Ulum al-Hadits (Ilmu Rijal Hadits, Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil, Ilmu Gharib al-Hadits, Ilmu Asbab Wurud al-Hadits, Ilmu Tawarih al-Mutun, Ilmu Nasikh al-Hadits, Ilmu Mukhtalif al-Hadits, Ilmu ‘Ilal al-Hadits)
C. Urgensi ‘Ulum al-Hadits dalam Studi Islam

IV. SEJARAH HADITS
A. Pra Tadwin Hadits
B. Masa Tadwin Hadits dan Tokohnya
C. Masa Pengembangan Hadits
D. Masa Pembukuan abad V H. hingga sekarang

V. METODE KODIFIKASI HADITS
A. Metode Kodifikasi
B. Para Pengumpul Hadits

VI. KLASIFIKASI HADITS
A. Berdasarkan Kwantitas Sanad
B. Berdasarkan Kwalitas Sanad
C. Berdasarkan Maqbul dan Mardud

VII. HADITS SHAHIH DAN DLA’IF
A. Hadits Shahih dan Kriterianya
B. Hadits Dla’if dan Permasalahannya


VIII. HADITS MAUDLU’
A. Pengerrtianya
B. Latar Belakang Kemunculannya
C. Hukum Meriwayatkannya
D. Tanda-tanda Hadits Maudlu’
E. Kehujjahannya
F. Contoh Hadits Maudlu’
G. Karya tentang Hadits Maudlu’

IX. ILMU AL-JARH WA AL-TA’DIL
A. Rawi dan Kriteria Transformasi Hadits
B. Pengenalan Kitab tentang al-Jarh wa al-Ta’dil
C. Tingkatan Ta’dil dan redaksinya
D. Jarh dan redaksinya

X. ILMU TAKHRIJ HADITS
A. Pengertian
B. Metode Takhrij dan contohnya
C. Mengenal Kitab-Kitab Rujukan


2. DAFTAR MARAJI’
Al-‘Azami, Muhammad Mushthafa, Prof., Dr., Dirasat fi al-Hadits al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih (دراسة في الحديث النبويّ وتاريخ تدوينه), juz I, Beirut: al-Maktab al-Islami, 1980.
al-Hadid, ibn Abi, Syarh Nahj al-Balaghah (شرح نهج البلاغة), Beirut: Dar al-Fikr, t.th., juz 3.
al-Jurjani, Abul Hasan, al-Mukhtashar fi Ushul al-Hadits (المختصر في أصول الحديث), (terj. A. Zarkasyi Chumaidy), Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995.
Al-Khathib, Muhammad ‘Ajjaj, Prof. Dr., al-Sunnah Qabla al-Tadwin (السنة قبل التدوين), Cairo: Maktabah Wahbah, 1963.
Al-Khathib, Muhammad ‘Ajjaj, Prof. Dr., Ushul al-hadits 'Ulumuhu wa Mushthalahuhu (أصول الحديث ومصطلحه), Beirut: Dar al-Fikr, 1973.
al-Kinani, Ali ibn ‘Iraq, Tanzih al-Syari’ah al-Marfu’ah (تنزيه الشريعة المرفوعة), Kairo: Maktabah Kairo, 1378 H.
Al-Mas’udi, Hafidh Hasan, Minhah al-Mughits fi ‘Ilm Mushthalah al-Hadits (منحة المغيث في علم مصطلح الحديث), Surabaya: Mhammad ibn Ahmad Nabhan, t.th.
al-Razi, ibn Abu Hatim, ‘Ilal al-Hadits (علل الحديث), Mesir: al-Mathba’ah al-Salafiyyah, 1343 H, jilid I.
al-Shiddiqi, Hasbi, T.M., Prof., Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1999.
Al-Syaukani, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Mawdlu’ah (فوائد المجموعة في الأحاديث الموضوعة), Edisi Abdur Rahman ibn Yahya al-Yamani, 1960.
al-Tahanawi, Dhafar Ahmad al-‘Utsmani, Qawâ’id fi ‘Ulum al-Hadits (قواعد في علوم الحديث).
al-Zafaf, Muhammad, al-Ta’rif bi al-Qur`ân wa al-Hadits (التعريف بالقرآن والحديث), Kuwait: al-Falah, 1979.
Amin, Mustafa, Muhadlarat fi ‘Ulum al-Hadits (محاضرات في علوم الحديث), Kairo: Jami’ah al-Azhar, 1971, juz I,
Ibn al-Atsir, al-Nihayah fi Gharib al-Hadits (النهاية في غريب الحديث), Kairo, 1963, juz I,
Isma’il, Syuhudi, Dr., Metodologi Penelitian Hadits Nabi, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Rahman, Fazlur, et. al., Wacana Studi Hadits Kontemporer, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.
Shalih, Subhi, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu (علوم الحديث ومصطلحه), Beirut: Dar al-‘Ilm, 1977.
Thahhan, Mahmud, Dr., Taysir Mushthalah al-Hadits (تيسير مصطلح الحديث), Surabaya: al-Haramayn, t.th.
Thahhan, Mahmud, Dr., Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid (أصول التخريج ودراسة الأسانيد), Beirut: Dar al-Qur`ân al-Karim, 1979.
Wensinck, A. J., al-Mu’jam al-Mfahras li Alfadh al-Hadits al-Nabawi (المعجم المفهرس لألفاظ الحديث النبوي), Beirut: t. penerbit (berasal dari Lieden: t. penerbit), 1936.
Wensinck, A. J., Miftah Kunuz al-Sunnah (مفتاح كنوز السنّة), Leiden: t. penerbit, 1927 M. (Disebarkan oleh M. Fu`ad di Kairo, 1353 H.).
Ya’qub, Ali Mustafa, M.M., H., Imam Bukhari & Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991.
Yunus, Mahmud, Prof., Ilmu Mushthalah al-Hadits (علم مصطلح الحديث), Jakarta: al-Sa’diyyah Putera, 1940.
Zuhri, Muh., DR., Hadits Nabi (Tela’ah Historis dan Metodologis), Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997.


***ms2f***
- syakur unwahas blogspot
- e_mail: syakur_cahkudus@yahoo.co.id
Syllabus
علوم الحديث
Mata Kuliah : ‘ILUM AL-HADITS
Bobot : 3 SKS
Prodi : Strata Satu (S1)

Jurusan/ Prodi : PAI, Mu’amalat, PGMI
Pengampu : Drs. H. M. Syakur Sf., M.Ag.

1. Tema:
 
I. TERMINOLOGI HADITS
A. Pengenalan istilah Hadits, Sunnah, Khabar dan Atsar
B. Klasifikasi Hadits Berdasarkan Redaksi
C. Hadits dan Sunnah
D. Struktur Hadits: Sanad, Matan dan Mukharij
E. Sebutan bagi Ahli Hadits

II. KEDUDUKAN HADITS
A. Dalil Kehujjahan Hadits
B. Fungsi Hadits terhadap al-Qur`ân
C. Hadits Nabawi dan Hadits Qudsi

III. ‘ULUM AL-HADITS
A. Pengertian
B. Cabang ‘Ulum al-Hadits (Ilmu Rijal Hadits, Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil, Ilmu Gharib al-Hadits, Ilmu Asbab Wurud al-Hadits, Ilmu Tawarih al-Mutun, Ilmu Nasikh al-Hadits, Ilmu Mukhtalif al-Hadits, Ilmu ‘Ilal al-Hadits)
C. Urgensi ‘Ulum al-Hadits dalam Studi Islam

IV. SEJARAH HADITS
A. Pra Tadwin Hadits
B. Masa Tadwin Hadits dan Tokohnya
C. Masa Pengembangan Hadits
D. Masa Pembukuan abad V H. hingga sekarang

V. METODE KODIFIKASI HADITS
A. Metode Kodifikasi
B. Para Pengumpul Hadits

VI. KLASIFIKASI HADITS
A. Berdasarkan Kwantitas Sanad
B. Berdasarkan Kwalitas Sanad
C. Berdasarkan Maqbul dan Mardud

VII. HADITS SHAHIH DAN DLA’IF
A. Hadits Shahih dan Kriterianya
B. Hadits Dla’if dan Permasalahannya


VIII. HADITS MAUDLU’
A. Pengerrtianya
B. Latar Belakang Kemunculannya
C. Hukum Meriwayatkannya
D. Tanda-tanda Hadits Maudlu’
E. Kehujjahannya
F. Contoh Hadits Maudlu’
G. Karya tentang Hadits Maudlu’

IX. ILMU AL-JARH WA AL-TA’DIL
A. Rawi dan Kriteria Transformasi Hadits
B. Pengenalan Kitab tentang al-Jarh wa al-Ta’dil
C. Tingkatan Ta’dil dan redaksinya
D. Jarh dan redaksinya

X. ILMU TAKHRIJ HADITS
A. Pengertian
B. Metode Takhrij dan contohnya
C. Mengenal Kitab-Kitab Rujukan


2. DAFTAR MARAJI’
Al-‘Azami, Muhammad Mushthafa, Prof., Dr., Dirasat fi al-Hadits al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih (دراسة في الحديث النبويّ وتاريخ تدوينه), juz I, Beirut: al-Maktab al-Islami, 1980.
al-Hadid, ibn Abi, Syarh Nahj al-Balaghah (شرح نهج البلاغة), Beirut: Dar al-Fikr, t.th., juz 3.
al-Jurjani, Abul Hasan, al-Mukhtashar fi Ushul al-Hadits (المختصر في أصول الحديث), (terj. A. Zarkasyi Chumaidy), Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995.
Al-Khathib, Muhammad ‘Ajjaj, Prof. Dr., al-Sunnah Qabla al-Tadwin (السنة قبل التدوين), Cairo: Maktabah Wahbah, 1963.
Al-Khathib, Muhammad ‘Ajjaj, Prof. Dr., Ushul al-hadits 'Ulumuhu wa Mushthalahuhu (أصول الحديث ومصطلحه), Beirut: Dar al-Fikr, 1973.
al-Kinani, Ali ibn ‘Iraq, Tanzih al-Syari’ah al-Marfu’ah (تنزيه الشريعة المرفوعة), Kairo: Maktabah Kairo, 1378 H.
Al-Mas’udi, Hafidh Hasan, Minhah al-Mughits fi ‘Ilm Mushthalah al-Hadits (منحة المغيث في علم مصطلح الحديث), Surabaya: Mhammad ibn Ahmad Nabhan, t.th.
al-Razi, ibn Abu Hatim, ‘Ilal al-Hadits (علل الحديث), Mesir: al-Mathba’ah al-Salafiyyah, 1343 H, jilid I.
al-Shiddiqi, Hasbi, T.M., Prof., Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1999.
Al-Syaukani, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Mawdlu’ah (فوائد المجموعة في الأحاديث الموضوعة), Edisi Abdur Rahman ibn Yahya al-Yamani, 1960.
al-Tahanawi, Dhafar Ahmad al-‘Utsmani, Qawâ’id fi ‘Ulum al-Hadits (قواعد في علوم الحديث).
al-Zafaf, Muhammad, al-Ta’rif bi al-Qur`ân wa al-Hadits (التعريف بالقرآن والحديث), Kuwait: al-Falah, 1979.
Amin, Mustafa, Muhadlarat fi ‘Ulum al-Hadits (محاضرات في علوم الحديث), Kairo: Jami’ah al-Azhar, 1971, juz I,
Ibn al-Atsir, al-Nihayah fi Gharib al-Hadits (النهاية في غريب الحديث), Kairo, 1963, juz I,
Isma’il, Syuhudi, Dr., Metodologi Penelitian Hadits Nabi, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Rahman, Fazlur, et. al., Wacana Studi Hadits Kontemporer, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.
Shalih, Subhi, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu (علوم الحديث ومصطلحه), Beirut: Dar al-‘Ilm, 1977.
Thahhan, Mahmud, Dr., Taysir Mushthalah al-Hadits (تيسير مصطلح الحديث), Surabaya: al-Haramayn, t.th.
Thahhan, Mahmud, Dr., Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid (أصول التخريج ودراسة الأسانيد), Beirut: Dar al-Qur`ân al-Karim, 1979.
Wensinck, A. J., al-Mu’jam al-Mfahras li Alfadh al-Hadits al-Nabawi (المعجم المفهرس لألفاظ الحديث النبوي), Beirut: t. penerbit (berasal dari Lieden: t. penerbit), 1936.
Wensinck, A. J., Miftah Kunuz al-Sunnah (مفتاح كنوز السنّة), Leiden: t. penerbit, 1927 M. (Disebarkan oleh M. Fu`ad di Kairo, 1353 H.).
Ya’qub, Ali Mustafa, M.M., H., Imam Bukhari & Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991.
Yunus, Mahmud, Prof., Ilmu Mushthalah al-Hadits (علم مصطلح الحديث), Jakarta: al-Sa’diyyah Putera, 1940.
Zuhri, Muh., DR., Hadits Nabi (Tela’ah Historis dan Metodologis), Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997.


***ms2f***
- syakur unwahas blogspot
- e_mail: syakur_cahkudus@yahoo.co.id