Selasa, 07 Februari 2012

Tugas Ulum al-Hadits 2012

Tugas Rumah TextHome dikerjakan sebagai tugas akhir


Tugas Rumah (Text Home)

UJIAN AKHIR

Semester Gasal 2011/2012

Mata Ujian : ‘Ulum al-Hadits

Bobot : 3 sks

Progdi : PAI/ Mu’amalat/ PGMI

Jenjang : Strata Satu (S1)

Dosen : Mahlail Syakur Sf.

Ketentuan Umum:

1. Ujian ini merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh setiap mahasiswa di rumah sebagai Text Home;

2. Tugas harus diketik rapi dengan font jenis Time New Roman, ukuran 12, jarak 1,5 spasi di atas kertas kwarto;

3. Tugas bersifat individual dan dikumpulkan di fakultas atau melalui koordinator daerah, lewat ketua kelas masing-masing (tanpa dijilid ataupun cover, cukup distaples), paling lambat tanggal 3 Mare 2012, (dibendel berdasarkan kelas);

4. Tugas yang dikumpulkan harus disertai fotokopi KST (bukan KRS) dan fotokopi Kartu Mahasiswa yang masih berlaku;

5. Mahasiswa yang tidak memenuhi ketentuan di atas (no. 4) lebih baik tidak mengumpulkan tugas.

Ingat !!!!!!!!

- Ini adalah tugas individu (fardlu ‘ain).

- Nasib kelompok tidak ditentukan oleh individu. Maka jika ada seorang yang belum memenuhi ketentuan, maka harus ditinggal agar jangan sampai mengorbankan lainnya hingga tugas terlambat dikumpulkan.

- Terlambat mengumpulkan tugas berakibat dikurangi nilainya.

Ketentuan Khusus:

1. Setiap mahasiswa wajib membuat Resume tentang ‘Ulum al-Hadits sesuai tema yang ada dalam silabi ‘Ulum al-Hadits berdasarkan kesepakatan di bawah koordinasi ketua kelas.

2. Sumber terserah mahasiswa, asal bertema ‘Ulum Hadits.

3. Buku yang dijadikan rujukan harus dijelaskan (judul, nama penulis, penerbit, th, dan halm) pada bagian pendahuluan.

4. Setiap mahasiswa wajib menngerjakan sendiri.

5. Jika ada pekerjaan yang sama, maka semuanya dibatalkan sebagai tugas akhir (tidak diberi nilai).

6. Tugas yang dikumpulkan harus diarsip dan ditandatangani oleh pemiliknya.

Selamat mengerjakan tugas, semoga sukses

مع النجاح

Senin, 16 Januari 2012

Nasikh-Mansukh

NASIKH-MANSUKH
Dalam Kitab al-Itqan karya al-Imam al-Suyuthi
Oleh Mahlail Syakur Sf.
(Peserta Pelatihan Kader Mufassir (PKM) pada Pusat Studi al-Qur`an Jakarta)

Pengertian
Menurut bentuk dasarnya, dua kata tersebut berasal dari kata kerja nasakha () yang berarti “merusak” atau “menghapus”. Sedangkan kata Nasikh () merupakan bentuk fa’il yang berarti “yang menghapus” atau “yang merusak”, dan mansukh () adalah bentuk kata maf’ul yang berarti “yang dirusak” atau “yang dihapus”.

Dari segi bahasa, menurut al-Hazimi sebagaimana yang dikutip oleh ‘Itr, kata naskh () mempunyai dua makna, yaitu:
1. Pembatalan (ibthal) dan penghapusan (izalah) seperti .... Atau seperti ungkapan dalam al-Qur`ân: Maka Allâh menghapus apa …).
2. Pemindahan atau pengutipan (naql), misalnya ...

Menurut al-Suyuthi, naskh dapat dipahami dengan empat makna sebagai berikut:
1. Penghapusan, penghilangan () seperti ...
2. Penggantian, penukaran () seperti ...
3. Perubahan () seperti ...
4. Pemindahan dari satu tempat ke tempat lain, pengutipan, penyalinan () seperti dalam ungkapan "Aku menyalin apa yang ada di dalamnya ....

Dengan demikian dapat dipahami bahwa kata nâsikhmerupakan bentuk fâ’il yang berarti yang menghapus, sedangkan kata mansukh adalah berbentuk maf’ul, sehingga artinya adalah yang dinasakh (sesuatu yang dihapus). Bila dikaitkan dengan ayat al-Qur`ân, maka makna kata mansukh ....

Dalam perspektif para ahli fiqh kata naskh dapat didekati dengan dua pengertian, yaitu:
1. Membatalkan hukum yang diperoleh dari nas yang telah datang terlebih dahulu dengan suatu nas yang datang kemudian. Misalnya, ....
2. Menghilangkan atau menghapus keumumam nas yang telah datang lebih dahulu, atau mentaqyidkan kemuthlaqan nas. Misalnya dalam surah al-Baqarah ...

Adapun dalam pengertian terminologi ‘Ulum al-Qur`ân, naskh dipahami sebagai cara syari’at menghapus hukum yang berlaku terlebih dahulu dengan hukum yang berlaku kemudian.
Nasikh–mansukh merupakan ilmu yang sangat urgen dalam studi al-Qur`an, sehingga para ‘ulama (dalam bidang ‘Ulum al-QUr`an) menyatakan: “Seseorang tidak boleh menafsirkan Kitab Allah kecuali setelah mengetahui nasikh-mansukh”. Dalam konteks ini Shahabat ‘Ali ibn Abi Thalib kw. suatu ketika bertanya kepada seorang penghulu (qadli): “Sudahkah Anda memahami nasikh-mansukh (dalam al-Qur`an)?” “Belum”, kata penghulu. Maka ‘Ali menyatakan: “Engkau rusak dan merusakkan”.

Pendapat al-Suyuthi tentang Nasikh-Mansukh
Nasikh-Mansukh dalam al-Qur`an masih menjadi perdebatan di kalangan para ‘ulama di bidang ‘Ulum al-Qur`an. Di antara mereka ada yang berpendapat “tidak ada nasikh-mansukh dalam al-Qur`an”.
Umumnya mereka yang berpendapat demikitan berpedoman pada ayat: Yang tidak datang kepadanya (al-Qur`ân) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya …

Firman-Nya dalam ayat lain yang dijadikan pedoman: Apa saja ayat yang Kami nashkkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya …

Atau dengan ayat: Sesungguhnya Kami-lah telah menurunkan al-Dzikr dan sesungguhnya Kami benar-benar me-meliharanya.

Menurut al-Imam al-Suyuthi, di dalam al-Qur`an terdapat nasikh-mansukh yang dapat diklasifikasi menjadi tiga kategori, ...

Sya’ir yang dikutip oleh as-Suyuthi menerangkan jumlah tema ayat berkenaan nasikh-mansukh yang dapat diurai sebagai berikut:
1. Tentang ke arah mana seseorang menghadap
2. Tentang berwasiat kepada ahli waris
3. Tentang larangan makan di malam hari
4. Tentang fidyah bagi orang mampu berpuasa
5. Tentang kewajiban taqwa
6. Tentang perang di bulan yang mulia
7. Tentang hitungan setahun
8. Tentang wasiat
9. Tentang berita tentang diri dan pikiran
10. Tentang sumpah
11. Tentang hukuman jera bagi pezina
12. Tentang meninggalkan kesaksian orang kafir
13. Tentang sikap sabar
14. Tentang sikap bepergian/ berjihad
15. Tentang larangan akad nikah bagi pezina
16. Tentang hak akad nikah bagi Nabi saw.
17. Tentang penarikan mahar
18. Tentang keselamatan
19. Tentang qiyam al-lail
20. Tentang permohonan izin
21. Tentang qismah



____
Ciputat, 17 April 2011
Mahlail Syakur Sf.

Minggu, 08 Januari 2012

Haji Tamu Raja


nikmat sekali menunaikan ibadah haji melalui program Tamu Raja 1432 H./ 2011
برنامج ضيوف خادم الحرمين الشريفين

Berangkat dari Indonesia tanggal 1 Nopember 2011/ 4 Dzul Hijjah 1432 H., pulang 12 Nopember 2011/ 16 Dzul Hijjah 1432 H.
Mahlail Syakur ibn Shaffar dari Universitas Wahid Hasyim Semarang

Senin, 28 November 2011

SEILA: Sekolah & Ngajia


SEILA: Sekolah & Ngajia

Di era kontemporer pendidikan umumnya diselenggarakan secara terpadu. Seila setelah menyelesaikan belajarnya di MI Darul Ulum 02 Ngembalrejo Kudus melanjutkan sekolah sekaligus ngaji di MTs. La Raiba HANIFIDA Jombang

Selasa, 09 Agustus 2011

Tafsir Tarbawi

TAFSIR TARBAWI

SILABI

Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi

Kode MK :

Komponen : MKK

Bobot : 2 SKS

Untuk Progdi : PAI, PGMI, Tadris, KI

Pengampu : Drs. M. Syakur Sf., M.Ag.

I. Tujuan

Agar mahasiswa mampu mendekati dan memahami al-Qur`ân melalui sudut pandang pendidikan (education perspctive), baik secara teoretik maupun praktik, yang berhubungan dengan kependidikan, melalui kajian kritis terhadap tafsir ayat-ayat dengan metodologi dan pendekatan tafsir tarbawi hingga mampu mengambil simpulan serta mengaplikasikannya dalam praktik pendidikan nyata.

II. Tema Inti

A. PENDAHULUAN

1. al-Qur`ân sebagai Sumber Pendidikan dan Pengajaran

2. Terminologi Tafsir Tarbawi

3. Tafsir Tarbawi: Pendekatan Tematik Tafsir al-Qur`ân

4. Kajian Tafsir Tarbawi: Subyek dan Obyek dalam Pendidikan

B. TERMINOLOGI PENDIDIKAN DALAM AL-QUR`ÂN

1. Tarbiyah

2. Ta’lim

3. Ta`dib

4. Tazkiyah

C. URGENSI ILMU DAN PENDIDIKAN

1. Penghargaan al-Qur`ân terhadap ilmu dan orang yang berilmu

a. al-Mujadalah: 11

b. al-Zumar: 22

2. Kebodohan: Kejahatan yang terselubung

Ali ‘Imran: 190-191

D. TEMA-TEMA TAFSIR TARBAWI

1. Kewajiban Menuntut Ilmu

a. al-’Alaq: 1-5

b. al-Ghasyiyah: 17-20

c. Ali ’Imran: 190-191

d. al-Tawbah: 122

e. al-‘Ankabut: 19-20

f. al-Rahman: 33

2. Tujuan Pendidikan

a. Ali ’Imran: 138-139

b. al-Fath: 29

c. al-Hajj: 41

d. al-Dzariyat: 56

e. Hud: 61

3. Kurikulum/ Materi Pendidikan

a. al-Hasyr: 22-24

b. Qaf: 19-23

c. al-A’la: 14-17

d. al-Hadid 20

4. Metode Pendidikan

a. al-Maidah: 67

b. al-Nahl: 125

c. al-A’raf: 176-177

d. Ibrahim: 24-25

5. Tanggungjawab (Lembaga) Pendidikan: Keluarga, Madrasah, masyarakat

a. al-Baqarah: 30

b. al-Tawbah: 122

c. Yusuf: 108

d. al-Tahrim: 6

e. al-Nisa`: 9

f. Luqman: 12-14

g. al-Syu’ara`: 214-217

6. Obyek Pendidikan

a. al-Tawbah: 15

b. al-Tahrim: 6

c. al-Syu’ara`: 214

d. al-Nisa`: 170

7. Interaksi Pendidikan: Dialogis, demokratis, dan humanis

Ayat-ayat yang menunjukkan sifat proses pendidikan dalam al-Qur`an.

E. TAFSIR TARBAWI TERHADAP KISAH

1. Kisah dalam al-Qur`ân

2. Kisah Nabi Adam

3. Kisah Nabi Nuh dan Anaknya

4. Kisah Nabi Ibrahim dan Anaknya

5. Kisah Nabi Musa dan al-Khadlir

6. Kisah Dzul Qarnain membangun tembok raksasa

7. Kisah Luqman dan Anaknya

III. Sumber Kajian

1. Wajib

’Ali, Sa’id Isma’il, al-Qur`ân al-Kari>m Ru’yah Tarbawiyyah, Kairo: Da>r al-Fikr al-’Arabi>, 2000.

Abuddin Nata, Dr., Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.

Ahmad Munir, Dr., Tafsir Tarbawi, Yogyakarta: Teras, 2008.

al-Abtahi>, Muhammad Ba>qir al-Muwah{h{id. al-Madkhal ila> al-Tafsi>r al-Mawd}u>’i li al-Qur’ân al-Kari>m. al-Najaf: al-Adab, 1969.

al-Bayd}a>wi>, Abu> Sa’i>d ‘Abdulla>h ibn ‘Umar ibn Muh{ammad al-Shi>ra>zi>. Anwa>r al-Tanzi>l wa Asra>r al-Ta’wi>l. Istanbul: Maktabah al-H{aqi>qah, 1998.

al-H{anafi>, Ah}mad. at-Tafsi>r al-'Ilmî li al-A>ya>t al-Kawni>yah fî> Al-Qur'a>n. Mesir: Da>r al-Ma’a>rif, t.th.

Al-Ja>wi>, M. Nawawi, al-Muni>r li Ma’a>lim al-Tanzi>l (Marah Labid). Beirut: Dar al-Fikr, 1981.

Al-Jawziyyah, Shams al-Din ibn al-Qayyim. Bada>`i’ al-Tafsi>r. Riya>d}{: Maktabah al-Jawziyah, 1411 H.

Al-Qa>simi>, Muh{ammad Jama>l al-Di>n. Mah{a>sin al-Ta’wi>l. Beirut: Da>r Ihya>` al-Kutub al-’Arabiyyah, 1957.


2. Anjuran

‘Abduh, Muhammad. Tafsi>r al-Fa>tih{ah. Kairo: Kita>b al-Tah}ri>r, 1382 H.

Baljon, J.M.S. al-Qur`ân dalam Interpretasi Modern. terj. Eno Syafrudien. Jakarta: Gaya Media , 1990.

Denfeer, Ahmad Van. ‘Ulu>m al-Qur’an. London: Islamic Foundation, 1983.

al-Gha>midi>, ’Abdur Rah}ma>n ibn ’Abdil Kha>liq ibn H{ajar. Madkhal ila> al-Tarbiyah al-Isla>miyyah. Riya>d}: Da>r al-Khari>ji>, 1418 H.

al-Ghaza>li, Abu Hamid. Jawa>hir al-Qur’ân wa Duraruhu. Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah,1329 H.

H{asan, Ami>nah Ah}mad. Naz}ariyya>t al-Tarbiyah fi> al-Qur`ân wa Tat}biqa>tiha> fi> ‘Ahd al-Rasu>l. Kairo: Da>r al-Ma’a>rif, 1985.

Ibn ‘Ashu>r, T>{a>hir. Tafsi>r al-Tah}ri>r wa al-Tanwi>r. Tunis: al-Da>r al-Tu>nisi>yah li al-Nashr, 1984.

Ibn ’At}iyyah, Abu> Muh{ammad ’Abdul H{aqq ibn Gha>lib. Al-Muh{arrar al-Waji>z fi> Tafsi>r al-Kita>b al-’Azi>z. Beirut: Da>r al-Kutub al-’Ilmiyyah, 2001.

Ibn Taymiyah. Daqaiq al-Tafsir. edt. Muhammad al-Sayyid al-Jalid. Beirut: Muassasah ‘Ulum al-Qur`ân, 1984.

Ibn Yasin, Hikmat ibn Bashir. al-Tafsi>r al-S}ah}i>h}. Madinah: Dar al-Maa>thi>r, 1999.

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, Tafsi>r al-Mara>ghi>. Beirut: Da>r al-Fikr, 1973.

Al-Qarni, ’A>id{ ibn ’Abdilla>h, Dr., Iqra` Bismi Rabbik. Libanon: Beirut, 2000.

Al-Qurthubi, al-Ja>mi’ li Ah{ka>m al-Qur’a>n, tah{qiq Abdulllah ibn Abdil Muhsin al-Turki, Beirut: Mu`assasah al-Risa>lah, 2006.

Al-Ra>zi>, Fakhr al-Di>n, Mafa>tih} al-Ghayb. Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1411 H.

Shah}a>tah, ‘Abd ‘Alla>h. ‘Ulu>m al-Tafsi>r. Kairo: Da>r al-Shuru>q, 2001.

al-Sha’ra>wi>, Muh{ammad Mutawalli. Tafsi>r al-Sha’ra>wi>. Mesir: Islamic Research Academy of al-Azhar, 1997.

al-Shahri>, S{a>lih{ ibn ‘Ali> Abu ‘Arra>d. Muqaddimah fi> al-Tarbiyah al-Isla>miyyah. Riya>d{: al-Da>r al-Sawlatiyah, 2003.

Sult}a>n, Mah}mud. Mafa>hi>m al-Tarbiyah fi> al-Isla>m. Mesir: Da>r al-Ma’a>rif, t.th.

Al-Suyu>ti>, Jala>l al-Di>n Abu> al-Fad{l ‘Abdurrah{ma>n ibn Abu> Bakr. al-Durr al-Manthu>r. Beirut: Da>r al-Fikr, 1403 H./ 1983 M.

Syakur, M., Sf., Maba>di` al-Tarbiyah fi al-Tafsir al-Tarbawi, Semarang: Universitas Wahid Hasyim, 2001.

al-Zain, Samih ’Atif. Ma’rifah al-Nafs al-Insaniyyah fi al-Kitab wa al-Sunnah. Beirut: Da>r al-Kita>b al-Libna>ni>, 1991.

Al-Zuhaili>, Wahbah, al-Tafsi>r al-Muni>r fi al-‘Aqi>dah wa al-Shari>’ah. Beirut: Da>r al-Fikr, 1411 H./ 1991 M.


Kontak Person: 081326789779
email: syakur_cahkudus@yahoo.co.id

Jumat, 05 Agustus 2011

Seila nyantri ke Jombang?


Menggapai aLAm CITAku
(Catatan Kecil di Perjalanan Baru)
oleh:
Seila


Sebuah perjuangan dalam mengejar ilmu (طلب العلم):
Pada Akhir Juni 2011 aku meninggal kota dan keluargaku menuju kota Jombang. Kota Semarang pun kulewati untuk singgah di terminal Tirtonadi Solo. Pada jam 18.00 Solo pun kutinggalkan. Capek rasanya naik-turun angkot/ len dan bus sejak pagi ketika itu.
Yang lebih mengesalkan lagi manakala mau turun di Jombang pada jam 00.15, ternyata tas yang berisi pakaian ganti selama belajar di Jombang telah diturunkan oleh penumpang lain di +/- 15 km (aku lupa nama tempat itu) seblm kami turun. Akhirnya aku dan ayah turun dari bus dengan membawa pesan dari kondektur bus agar kami segera kembali ke tempat penurunan penumpang tadi (pertigaan) dengan naik ojek untuk menanyakan kepada tukang becak di sana.
Sesampai di tujuan yang dimaksud ayah segera menemui seoerang Tukang Becak yang sedang mangkal. Tukang becak pun akhirnya membawa tukang Ojek ntuk melacak rumah di mana penumpang tadi dibawa tukang ojek. Bersama ayah dan tukang ojek, abang becak pun melacak ke berbagai penjuru desa Pedas di mana dimungkinkan penumpang tadi pulang. ......
Beberapa saat aku ditinggal di depan sebuah Salon yang tutup (tempat mangkal becak dan ojek). Rasa takut dan cemas pun menyelimuti diriku dalam menunggu ayah kembali. Akhirnya pelacakan pun belum menemukan hasil meskipun oleh tukang becak telah memperoleh dugaan bahwa tukang ojeknya adalah seorang Mantan Bakal Calon Kades.
Akhirnya kami melanjutkan perjalan ke pesantren La Raiba dg diantar oleh tukang ojek. Skitar jam 02.30 kami tiba di pesantren. "Berp ongkose, cak?" "Rp 70rb kemawon". "Maturnuwun, njih? Sampun ditolong. ngrepoti"
Akhirnya kami pun bertemu dengan Abah Mahmud (sesepuh pesantren). Omong punya omong, akhirnya kami bercerita pada Abah. Beliau merespon serius. Kami pun dipersilahkan Shalat dan beristirahat. Sebelum tidur, ayah mengajakku berdo'a dan aku pun dimohon memperbanyak bacaan Asma` Allah al-Husna.
Paginya (1 Juli 2011, aku mengawali sejuknya udara pagi kota pesantren, Jomabng) ayah diantarkan Abah dg mobil ayah teman kami di psantren untuk kembali melacak siapa pembawa/ penurun tas saya. Sesampai di tujuan, Abah ditanya oleh seseorang. Abah pun menyampaikan maksudnya. Akhirnya ayah dan Abah diajak ke rumah seorang Bapak yang baik hati (mantan Bakal Calon Ka Des). Tak pernah kubayangkan dan kuimpikan kecuali aku berharap. Tuan Rumah saat menerima kedatangan ayah dan Abah langsung menyatakan: "Ini tas jenengan. Sampun kulo pendet mari subuh saking penumpang ingkang kulo antar kolo dalu. Pripun ceritane, pak?" Ayah pun akhirnya mencerikan kronologi peristiwa Malam Jum'at awal Juli tersebut.....
Setelah menyampaikan ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya, dengan perasaan lega bercampur gembira ayah kembali ke pesantren membawa tas yang malang.
Inikah awal perjuangan? Atau sebuah ujian/ pre tes bagiku?
Semoga aku tabah dan mampu menjalani tugas suci ini dengan senantiasa mengharap 'inayah dan hidayah dari Allah ...
والله أعلم بالصواب